Kamis, 04 November 2010

Bencana Alam

Gempa Bumi 7.2 SR Aceh dan Tuhan yang Murka

Bumi Aceh alias  “Serambi Mekkah” Indonesia kembali diguncang gempa berkekuatan 7.2 SR (BMG) [1] atau 7.7 SR (USGS) [2] pada hari Rabu, 7 April 2010 pukul 05.15 WIB. Menurut laporan BMKG, pusat gempa berada di 2,30° LU dan 96,87 ° BT dengan pusat gempa sekitar 60 km tenggara Sinabang, Aceh, pada kedalaman 24 km.
Getaran gempa ini dirasakan didaerah yang dekat dengan sumber gempa yakni pesisir Barat Sumatera Utara dan Pulua Nias. Sementara beberapa wilayah yang berdekatan seperti Sumatera Barat dan Riau juga  merasakan getaran gempa  ini. Meski kekuatan gempa yang satu ini 100 x lebih kecil dari gempa 26 Desember 2004 lalu, tentu memori  psikologis  yang pahit dan trauma masih begitu melekat bagi masyarakat Aceh dan sekitarnya (yg mengalami).
Gempa dengan kekuatan 8.9 SR (BMG) atau 9.3 SR (USGS) pernah meluluhlantakkan bumi Rencong dan Nias dengan menghabisi lebih 126.000 korban jiwa. Tidak hanya di Aceh dan Nias, berbagai wilayah seperti Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Srilangka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika ikut merasakan dampak gempa yang disusul Tsunami ini. Tercatat gempa dan tsunami Aceh 26 Desember 2004 merupakan gempa terbesar  dalam 2 abad terakhir [3] dan merupakan gempa dengan peringkat ke-5 dari segi jumlah korban jiwa yakni mencapai kurang lebih 230.000 jiwa [4]

Gempa = Tuhan yang Murka?

Kita berharap gempa Aceh pada hari ini tidak tidak menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan  juga tidak menyebabkan kerusakan yang fatal.  Dan dari laporan terakhir, hanya ada 12 korban luka-luka dan beberapa bangunan rusak ringan [7]. Syukurlah tidak ada korban jiwa. Gempa bumi yang besar di daerah berpenghuni padat tentu akan menyebabkan ‘bencana’ bagi penduduk setempat. Gempa besar di Haiti, tentu bukan bencana bagi orang Indonesia pada umumnya. Dan gempa bumi besar di Atlantik, tentu bukanlah “bencana” langsung bagi penduduk bumi.
Namun, tidaklah asing lagi digenderang telinga, kita mendengar bahwa  gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, ombak besar adalah hukuman dari Tuhan atas kemaksiatan dan kerusakan moral masyarakat. Ini semakin sering dilontarkan saat kita mendengar bencana di Aceh, Tasikmalaya, Padang, Cianjur, dan sebagainya.
Pertanyaan pertama, benarkah gempa bumi dan fenomena alam merupakan bentuk murkanya Tuhan pada manusia? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, silahkan lihat tabel dibawah ini.
Kekuatan Gempa dan Frekuensi Statistiknya [5]
Kekuatan Gempa
Dampak Gempa
Frequensi terjadi
< 2.0 SRGempa skala mikro, tidak terasa+/- 8,000 per hari
2.0-2.9 SRUmumya tidak terasa+/- 1,000 per hari
3.0-3.9 SRSering terasa, tapi tidak menyebabkan kerusakan.49,000 per tahun
4.0-4.9 SRBeberapa benda (spt lampu) ikut bergetar, kerusakan dikit6,200 per tahun
5.0-5.9 SRDpt menyebabkan kerusakan pd bangunan yg tdk tahan gempa, hanya mencakup area kecil800 per tahun
6.0-6.9 SRDpt menyebabkan kerusakan pd bangunan radius 160 km120 per tahun
7.0-7.9 SRDpt menyebabkan kerusakan parah pd area yg lebih luas.18 per tahun
8.0-8.9 SRDpt menyebabkan kerusakan parah pd area ratusan km persegi.1 per tahun
9.0-9.9 SRMenghancurkan areal hingga lebih dari 1000 km..1 per 20 tahun
10.0+ SRBelum pernah tercatat~
Dari tabal diatas, gempa merupakan fenomena alam yang biasa. Bisa dilihat bahwa gempa yang dapat menyebabkan kerusakan yang fatal (7-7.9 SR) terjadi sekitar 18 kali per tahun. Artinya hampir tiap bulan terjadi gempa  yang cukup besar di bumi ini.  Dari sini, gempa tidak jauh berbeda dengan fenomena alam yang lain seperti banjir, tanah longsor, badai/topan. Hanya saja, gejala gempa sulit dideteksi sejak dini pada suatu wilayah. Namun yang pasti adalah selama lempeng-lempeng bumi ikut berotasi dengan kecepatan 1675 km/jam, maka perubahan sedikit saja di permukaan bumi akan menimbulkan gempa tektonik, terlebih lempeng-lempeng bumi bergerak relatif 6-10 cm/tahun.
Dengan hukum alam ini, maka berdoa seperti apapun juga, gempa pasti akan terjadi. Ini adalah fenomena alam yang pasti terjadi, selama bumi berotasi dan lempeng yang mengapung terus bergerak. Berdoa dan bersujud  pada Tuhan agar tidak terjadi gempa sama gilanya meminta-minta Tuhan tidak menurunkan hujan, atau lebih ekstrimnya berdoa agar tidak mati. Padahal, perubahan sedikit saja pada distribusi energi akan menyebabkan perbedaan suhu, pergerakan udara (angin), disparitas tekanan yang akhirya menyebabkan perubahan cuaca secara macroscale. Hujan deras atau angin kencang akan diikuti dengani banjir dan tanah longsor. Ini adalah fenomena alam. Begitu juga aktivitas matahari. Ini adalah fenomena alam pada umumnya, bukan kemurkaan Tuhan.
Pertanyaan pertama sudah terjawab bahwa gempa, topan, gunung meletus, adalah fenomena dari hukum alam, it’s very natural. Bukan hukaman Tuhan. Planet Jupiter juga hampir tiap tahun dihantam asteroid, dan kita tidak menganggapna  bencana bukan? Sekarang muncul pertanyaan kedua, apakah fenomena gempa baru terjadi saat ini sehingga kita menyebutnya sebagai bencana alam?
Jauh sebelum adanya peradaban manusia di bumi, sejak  ratusan juta yang lalu, bumi sudah berkali-kali dihantam meteor, dilanda gempa mahadashyat hingga memusnahkan spesies dinosaurus. Apakah fenomena gempa dan hujan meteor serta perubahan iklim (e.g ice age) ini adalah merupakan murka Tuhan?
Jika kita berpikir yang lebih rasional dan logic, maka semua fenomena alam itu justru merupakan proses menuju kesetimbangan yang baru bagi bumi ini. Tanpa adanya meteor yang jatuh, pergeseran lempeng, atau fenomena ‘bencana raksasa” lainnya, maka manusia sulit untuk muncul, manusia tidak memiliki tempat yang tepat untuk hidup dan survive. Tanpa bencana-bencana seperti itu, makhluk raksasa seperti dinosourus dan keluarganya yang akan mendominasi bumi, dan akan menghabisi makkhluk-makhluk kecil seperti manusia zaman purba dahulu.

Stop Menyalahkan Alam, Tuhan dan Manusia Lain!

Sangat menggelikan jika setiap kali gempa, maka masyarakat kita menghubung-hubungkan dan bahkan menjadikan keyakinan bahwa fenomena alam seperti gempa, tsunami, topan, banjir, ombak besar adalah adalah hukuman dari Tuhan atas kemaksiatan dan kerusakan moral masyarakat. Ketika gempa 30 September di Padang, banyak  masyarakat awam meyakini bahwa gempa itu terjadi akibat dari pergaulan pemuda Padang yang buruk selama bulan Ramadhan. Sungguh sangat disayangkan bahwa paradigma ini justru juga dianut oleh seorang Profesor Doktor.
Gempa yang terjadi di Sumbar merupakan cobaan dan peringatan, baik bagi warga di ranah Minang itu maupun di daerah lain…. Musibah gempa itu juga bisa berarti peringatan karena banyaknya maksiat atau perilaku masyarakat yang bertentangan dengan ketentuan agama. Untuk itu, selain bersabar, warga Sumbar yang mengalami musibah gempa tersebut juga harus banyak memohon ampun kepada Allah SWT karena mungkin banyak melakukan kesalahan…..Musibah tersebut juga peringatan untuk pemerintah agar lebih giat memberantas maksiat dan perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran agama.
-Prof Dr H. Abdullah Syah, MA – Ketua MUI Sumut-
[6]
Bila seorang profesor dan tokoh masyarat sekaliber Ustad Abdullah Syah saja berpikiran demikian, bagaimana dengan masyarakat awam lainnya? Apakah mereka sama sekali tidak tahu bahwa gempa atau tsunami atau topan merupakan fenomena alam yang biasa bagi skala makro kesetimbangan energi dan massa bumi? Meskipun saya percaya adanya “buttefly effect”, namun terlalu jauh menghubungkan energi momen inersia rotasi bumi dengan kecepatan 1675 km/jam serta gerakan lempeng 6-10 cm sebagai akibat dari kemaksiatan dan degradasi moral. Atau lebih lucunya menyalahkan pemerintah yang korup dan seterusnya.
Jika kita cermatin lebih dalam lagi, pemikiran dan komentar ini justru menunjukkan arogansi “justifikasi”. Tanpa memberi pencerahan yang benar, alih-alih melakukan  “blame the victims”. Korban yang sudah menderita disalahkan lagi sebagai penyebab turunnya bencana. Jadi alih-alih bersimpati, sang komentator berpendapat bahwa korban memang layak mendapatkan penderitaan itu karena perbuatan maksiat yang telah dilakukannya. Apa benar demikian?
Kalau benar bencana alam itu hukuman bagi kemaksiatan, maka seharusnya yang menjadi korban adalah pelaku kemaksiatan dan orang yang mengalami demoralisasi. Tidaklah adil kalau orang yang tidak bersalahpun terkena hukuman, sementara pelaku maksiat dapat hidup enak diatas penderitaan “victim” yang di”blame”. Mengapa pula masyarakat Sumatera Barat harus menjadi korban akibat 660 anggota dewan yang akan dilantik secara glamor? Mengapa pula karena satu orang, lalu fenomena alam, energi bumi berubah 180 derajat?
Bagaimana dengan negara “kafir” seperti Jepang. Biarpun sering dilanda gempa, mengapa korban yang jatuh tidak sebanyak yang di Indonesia? Ya karena gempa memang sebuah fenomena alam normal bagi masyarakat Jepang, layaknya topan dan banjir. Korbannya sedikit dan dampak kerusakan minim karena usaha preventif masyarakat Jepang jauh lebih baik dari Indonesia.
Usaha preventif atau disiplin dalam meminimalisasi dampak (pencegahan) inilah yang kurang dalam bangsa ini. Kita kurang disiplin dimana saja kita berada. Di kantor, sekolah, pusat perbelanjaan maupun dijalan. Seberapa peduli kita  pada sabuk pengaman di mobil, memakai helm yang standar, atau mengantri dengan rapi? Seberapa peduli kita menjaga keselamatan penumpang lain?
Banyak bencana kecelakaan terjadi Indonesia, karena human error, karena egoisme kita sebagai manusia. Kita memaksa diri kita menjadi penumpang terakhir, meski kapasitas kapal/kendaraan sudah maksimum. Mengendarai kendaraan diatas kecepatan yang normal, lalu terjadi kecelakaan. Ditambah dengan tidak ada pelampung dan tidak memasang sabuk pengaman, dampak kecelakaan menjadi begitu fatal dan bahkan langsung tewas. Apakah ini namanya ‘bencana” begitu dahsyat? Sementara orang lain yang lebih preventif dapat mengurangi dan meminimalisis dampak?
Namun yang pasti, kita dapat belajar mengolah diri kita kapan saja. Dan ketika terjadi gempa bumi, kita dapat melatih diri untuk memiliki hati yang saling mendoakan, hati yang saling menolong, hati yang saling membantu dalam menghadapi akibat bencana. Kita sedang dilatih kecerdasan untuk membangun lingkungan yang lebih tahan terhadap bencana alam. Kita diberi hikmat untuk menjaga keutuhan lingkungan dan mencegah kerusakan alam akibat perbuatan kita.
Tampaknya, gempa bukanlah fenomena Tuhan marah, tetapi komentar dan pemikiran “blame of victim” terhadap fenomena gempalah membuat Tuhan murka… :D



Tanah Longsor Landa Kabupaten Bandung


Bencana tanah longsor kembali melanda Indonesia, kali ini terjadi pada hari Selasa 23 Februari. Sekitar pukul 08.00 WIB, terjadi longsor di tebing Gunung Waringin atau tepatnya di kawasan perkebunan teh Dewata, Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasir Jambu Ciwidey, Kabupaten Bandung.
Dari data yang dihimpun di Kecamatan Pasir Jambu, setidaknya terdapat 27 bangunan yang tertimbun longsor di Kampung Datar Kiara, Desa Tenjolaya, Kelurahan Tenjolaya, Kecamatan Pasir Jambu Ciwidey, Selasa 23 Februari.


"Ada 27 bangunan besar yang tertimbun termasuk pabrik pengolahan (teh-red)," kata Camat Pasir Jambu Rahman, kepada wartawan di lokasi longsor Rabu 24 Februari.


Diantara dari 27 bangunan itu terdapat pabrik,koperasi,kantor administrasi GOR,rumah pegawai administrasi dan puluhan rumah pekerja.
Jumlah korban yang tertimbun akibat longsor masih simpang siur. Namun, berdasarkan data dari Kecamatan Pasir Jambu, sebanyak 32 orang dinyatakan hilang dan diduga tertimbun.
"Data tersebut berdasarkan dari warga yang selamat dan menyatakan kalau anggota keluarganya masih tertimbun," jelas Kasie Pemerintahan Kecamatan Pasir Jambu, Kosasih, saat dihubungi detikbandung melalui telepon, Rabu (24/2/2010).


Kosasih menyatakan, saat longsor memang ada sekitar 70 orang yang sedang berada di lokasi. Sebagian dari mereka selamat dari timbunan longsor.


"Yang tertimbun itu ada sekitar 38 orang. Kalau yang sudah ditemukan meninggal ada 6 orang. Jadi, saat ini ada 32 orang yang tertimbun longsor dan belum ditemukan," jelas Kosasih.


Warga yang selamat, kata Kosasih, saat ini sudah dievakuasi ke Balai Desa Tenjolaya dan rumah-rumah penduduk. "Ada 50 lebih yang dievakuasi. Mereka disebar ke balai desa dan rumah penduduk sekitar. Sengaja kami evakuasi ke tempat lebih aman. Jarak dari lokasi kejadian ke tempat evakuasi itu sekitar 32 kilometer," tutup Kosasih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar